Siluet, jagung, Dan Hasil Pembuahan

Hanya sekedar bercerita, mengunggah dan bertanya, tentang imajinasi awal kita ketika kita melihat lekuk indah ala celana dan kaos-kaos ketat. Terkadang rok dan celana pendek menjadi sebuah ambigu. Memasuki sebuah altar penuh dengan aksesoris dan sarana-sarana pembersih badan. Mempersiapkan imajinasi mengisi kepala dengan bentuk-bentuk lekukan yang tersebut tadi. Memberi tekanan pada bagian tubuh, menghangatkan badan bersiap untuk naik ke puncak tertinggi dalam hasrat.

Entah karena memang jaman yang sudah merubah cara berpakaian yang sering mengundang imajinasi, atau memang individu yang sakit setiap melihat paras yang rupawan? Atau mungkin, bungkus-bungkus batangan altar mandi yang menggunakan siluet-siluet tubuh indah seorang kaum hawa, yang memicu individu bertingkah berlebih. Namun sama saja, mereka (anda mungkin termasuk) tetap mengimajinasikan pikiran-pikiran tentang celana ketat dan siluet bungkus sabun. Inilah segala tuntutan yang dibutuhkan untuk menghasilkan tindakan bodoh menanam benih putih dalam sel telur. Menjadi seorang yang masih seumur jagung namun diharuskan menjadi jagung dewasa. Jagung yang telah memiliki benih dan hasrat menerima suatu hal yang untuk sebagian jagung mereka sebut itu adalah cobaan dari Tuhan. Namun benarkah? Jagung-jagung itu bisa saja menahannya, namun karena godaan dari siluet dan celana itulah, mereka memaksa kehendaknya, ketika altar kebersihan tidak bisa lagi menanggung dan menampung hasrat mereka. Lalu? Apalagi? Hanya sepintas dari penetasan telur dan sembilan bulan kemudian muncullah seorang penerus bangsa tanpa dosa yang terlahir karena keintiman haram, yang kemudian mereka sebut dengan “ANAK HARAM”.

Penyelesaiannya? Hanya menambahkan rating bagi berita di media massa. Menambah jumlah daftar orok tanpa induk yang memenuhi badan negara, panti-panti dan rumah seorang. Kebanyakan hanya berakhir dengan cerita dalam tas, kardus, tertinggal di teras rumah, hilang dalam rahim, mati di tangan sang rama, bahkan ada yang mengikuti cerita Nabi Musa AS, berakhir di sungai. Terkadang selamat secara sehat atau sedikit panas dingin, terkadang berakhir dengan nyawa melayang. Pernahkah mereka, jagung-jagung yang telah intim ini, berpikir bahwa mereka mungkin saja adalah bagian dari tragedi seperti ini? Mungkin bagi mereka, kenikmatan surga adalah raja diatas segalanya, tanpa harus menjadi seorang pemilik benih tetas yang mereka tanam sendiri.

Lalu bagaimana dengan kaum hawa yang terlanjur menajalankan ritual laknat ini? Akankah mereka puas hanya dengan sekali ritual? Ataukah mereka lanjutkan menuju tahap yang lebih tinggi? Menuju level yang paling tinggi? Mungkin saja, mereka menyesal, pada awalnya. Namun pada akhirnya, hanya menjadi budak birahi dengan tarif permalam untuk setiap puncak nikmat. Atau, memilih untuk berteman dengan tali menggantung dan liang yang siap menunggunya kapanpun ajal menjemputnya.

benarkah mereka adalah pelaku kebiadaban? Ataukah hanya sekumpulan korban jaman dan kemajuan kehidupan manusia? Apakah harus kita salahkan? Bagaimana dengan buah hasil dari intimisasi mereka? Haruskah berakhir seperti dalam media? Anda yang tentukan dan nilai sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s