Bernafas : Dilema Para Penyedot Tembakau

Ketika semua penghuni bangunan terlelap dan berlenggang bebas dalam bunga-bunga tidur mereka, ketika matahari menyembunyikan wajahnya dan bulan datang dengan dipenuhi jerawat, saya menyempatkan diri untuk menulis tulisan ini, karena seperti sebuah kerikil di tengah jalan, aku merasa ini adalah sebuah ganjalan dalam pikiran ini jika saya tidak berbagi dengan anda. Semisal aku seorang remaja belasan tahun, dan itu telah berlalu beberapa bulan lalu, mungkin saya akan bilang ini adalah curhat. Ya tulisan ini memang bisa dibilang curhat, namun menurut saya bukan itu inti dari semua ini karena dalam hal ini banyak yang mungkin merasakan apa yang saya rasakan sebelumnya.

Diawali dengan sebuah kejadian lucu. ketika itu aku berada di sebuah taman di kota magelang, kota kecil nan asri. Aku pikir tidak ada salahnya aku nyalakan sebatang rokok karena aku sendirian dan lebih baik aku merokok daripada aku tidak ada kegiatan lain selain itu. Dan lagipula, tidak ada larangan merokok di taman itu. Saat itu kulihat seorang ibu mendekatiku dan duduk di sampingku. Aku pikir, “akh ganggu aja ni ibu-ibu”. Aku sedikit bergeser dan sedikit menjauh dari ibu-ibu tersebut dan berusaha agar asap rokokku tidak sampai padanya. Tapi ketika aku menghembuskan asap, tiba-tiba ada angin meniup asapku kearah ibu tadi. Lalu, dengan marahnya, ibu itu bilang padaku “heh mas, rokoknya dimatiin mas. Ganggu saya ini. Akh, polusi udara saja”. Lalu aku jawab, “tapi saya udah di sini duluan bu, jadi bukan saya yang salah kalo ibu dapet asap rokok. kan ibu harusnya dah liet kalo saya merokok dri kejauhan”. “Tapi kamu kan bisa pergi. ini kan tempat umum”. Lalu terjadi lah sebuah perdebatan sengit antara aku, dan ibu-ibu tadi dengan topik masalah seputar rokok dan siapa yang duluan memakai tempat itu. Dalam salah satu pendapatnya, ibu itu bilang gini, “Bisa baca ga sih mas? Kan uda dikasih peringatan di bungkus rokoknya tentang bahayanya orang ngrokok. kok masih ngrokok?”

Sejak itu, aku mulai bertanya, “apakah kebebasan merokok di publik itu adalah sebuah larangan? Kenapa merokok menjadi sebuah gangguan bagi mereka? Apakah mereka tidak bisa menerima seorang perokok di tempat umum? Lalu bukankah di tempat-tempat umum itu lebih banyak jumlahnya yang merokok daripada yang tidak? Kan penghasilan terbesar negara kita datnganya dari batang rokok ini? Kok dilarang ya? Sekarang malah ada yang mengharamkan pula?” Sebenarnya, merokok itu kan hak setiap orang, dan dimanapun tempatnya, boleh-boleh saja asal jangan sampai mengganggu orang yang tidak merokok bukan? Bila mereka, yang tidak merokok itu tahu dan sudah melihat bahwa kita adalah orang yang dan sedang merokok, harusnya mereka menjauhi kita bukan? Harusnya mereka tidak usah mendekati kita kan? Kenapa mereka yang tidak merokok, merasa yang paling benar? Kenapa harus kita terus yang mengalah untuk mereka? Bila kasusnya seperti kasusku diatas, bukankah mereka yang harusnya menjauh dari kita? Kenapa malah kita yang harus menjauh dari mereka?

Para perokok itu tentu tahu resikonya merokok. Mereka pasti bisa memahami apa arti dari kalimat, “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin” bukan?! Karena mereka sudah tahu resikonya itulah, mereka tetap menjalaninya. Bahkan ada perokok yang tiba-tiba berhenti merokok lalu setelah itu jatuh sakit karena kekurangan rokok. Kalau sudah seperti itu, harus bagaimana? Kami para perokok juga memiliki hak untuk tidak mau diganggu dan dimarahi, disindir, digugat atau apalah namanya. Karena merokok merupakan hak setiap orang. Seperti layaknya minum air putih yang bisa dibawa kemana-mana, merokok pun tidak jauh berbeda.

Lalu, ketika kita melihat tanda “Maaf, disini dilarang merokok“, atau, “Terima kasih untuk tidak merokok di dalam ruangan ini“, sebenarnya siapa yang pertama kali memakai kata-kata ini? Semua tanda dan peringatan untuk larangan merokok ini dimanapun dan dibelahan dunia manapun sama saja. Tetap berupa gambar sebatang rokok yang disilang. Mengapa begitu? Apakah itu mengikuti tanda rambu lalu lintas dilarang parkir, ataukah rambu lalu lintas itu yang ikut-ikutan tanda ini? Kenapa sih kita harus dilarang untuk merokok di suatu tempat? Mungkin ini jawabannya :

1. Tempat itu merupakan ruangan ber-AC.

2. Abu rokok mengotori tempat itu dan si pemilik tidak mau susah-susah membersihkannya.

3. Si pemilik tempat trauma dengan para perokok karena mereka suka sembarangan dalam membuang puntung rokoknya.

4. Para perokok cenderung tidak peduli dengan orang lain, sehingga membuat si empunya tempat jadi risih.

5. Si empunya tempat ingin menjaga kesehatan dan membantu kita menjaga kesehatan.

Itulah kenapa kita dilarang merokok. Namun, ketika di tempat umum, di pinggir jalan atau di lapangan, atau dimanapun berada, asalkan diluar ruangan dan tidak mengganggu, itu adalah hak setiap perokok untuk menikmati waktu bebasnya merokok sepuasnya. Tapi, untuk para perokok, saya punya sedikit saran nih, buat anda-anda yang merokok :

1. Apabila merokok, jangan sembarangan buang puntung rokoknya ya, bikin kotor itu.

2. Jangan merokok saat mengemudi, karena asapnya bisa masuk mata dan bara rokoknya bisa membahayakan pengendara lain. Inget, bukan kita saja yang pakai jalannya.

3. Jangan buang abu rokok sembarangan, karena bisa bikin kotor lingkungan.

4. Jangan merokok dekat dengan anak kecil atau ibu-ibu hamil. (atau ibu-ibu egois kayak yang aku alami)

5. Jangan merokok hanya karena ingin keliatan keren. Kalau anda merokok karena hal itu, mending berhenti aja deh.

6. Ikuti tanda larangan merokoknya, hormati empunya tempat kawan. Karena kita juga tak mau diremehkan bukan?

7. Jauhkan rokokmu dari pom bensin. karena jika kita merokok di pom bensin, pasti dimarahi, xixixixixi.

8. Jika anda ingin jadi perokok, ketahuilah resiko dan akibatnya di masa mendatang.

9. Jangan habiskan uang anda untuk membeli rokok. Lebih baik untuk beli makan.

Itulah beberapa saran yang bisa saya berikan kepada saudara-saudara perokok semua. semoga bisa bermanfaat dan semoga tulisan ini tidak mengganggu untuk orang lain layaknya asap rokok saya. Karena kita manusia penuh dengan salah dan luput, jadi maaf jika saya ada kesalahan.

Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s