Dilema Gerobak Besi Dan Kuda Besi : Ngetem itu kenapa sih?

Kala itu senja yang terik dan panas membuat kepalaku hendak aku copot dan ku letakkan di lemari es agar dapat aku gunakan untuk berpikir jernih. aku tarik kayuh tangan dari kuda besi milikku dan aku gunakan untuk melenggang pulang. kembali ke rumah kedua. sesaat aku terhenyak dan tersentak. terkejut melihat sebuah gerobak dengan empat roda dengan mesin ber-pelat nomor kuning yang tiba-tiba berhenti di depanku. sontak aku hampir menabrak dan seketika itu pun, aku melemparkan kata-kata umpatan yang seharusnya, tidak perlu.

sederetan mesin-mesin ini berjajaran membentuk sebuah barisan layaknya semut yang sedang beriringan mengusung makanan. tapi ini bukan. mereka berlomba-lomba mencari penumpang dengan memakan bahu jalan dan membahayakan penunggang-penunggang mesin lainnya. dalam sebuah bahasa umum masyarakat, lomba pencarian penumpang oleh mereka ini disebut ngetem.

di kota mana saja daerah mana saja selalu ada yang saja angkot-angkotngetem ini. sebenarnya, kenapa harus ngetem sih? kalo ngetem itu mbok ya jangan makan jalan, cari tempat lain dong!!, begitulah orang-orang ketika mereka mulai kesal dengan tingkah plat kuning iniLalu sebenarnya para pengendaranya atau pak kepala-kepala kotak, atau pemerintahnya atau memang sudah mendarah daging diantara para pemakai gerobak besi ini?
apakah tidak pernah ada kebijakan untuk memberikan tempat bagi para pe-ngetem ini?

Dalam benakku, tersiratlah sesuatu. Sebenarnya, siapa orang yang paling pertama kali mempopulerkan ngetem ini? dan siapa sopir angkot pertama yang melakukan ngetem?

Advertisements